Hati Hati Dengan Asumsi Anda

Adam stress berat karena sering bertengkar dengan pasangan hidupnya, dan dengan mengikuti nasehat dari teman temannya, akhirnya Adam memutuskan untuk konsultasi ke seorang hipnoterapis.

Kebetulan yang dicari adalah seorang hipnoterapis yang juga sangat berpengalaman dalam bidang konseling perkawinan.

Setelah melakukan induksi, sang hipnoterapis mulai melakukan regresi, chair therapy, parts therapy sambil memberikan nasehat dalam bentuk sugesti, membahas tentang arti hubungan suami istri, tentang sifat dan kecenderungan yang berbeda antara seorang pria dan wanita dan lain lain dengan berbekal pada pengalamannya sebagai seorang konseling perkawinan selama bertahun tahun.

Sesudah merasa cukup, dengan puas sang terapis membangunkan Adam untuk evaluasi sambil menggunakan Yes Set untuk menanamkan sugesti post hipnotik, mumpung Adam masih dalam kondisi yang sangat sugestif karena baru kembalii ke kesadaran normal, demikian pikir sang terapis.

Terapis: “Apakah anda sudah merasa lebih tenang sekarang?”

Adam: “Ya pak, tapi…”

Terapis: “Dan sekarang anda sudah bisa lebih memahami sifat dan kebutuhan wanita yang berbeda dengan pria?”

Adam: “Ya pak, tapi…”

Terapis: “Kalau begitu anda juga sudah bisa memaafkan dan menerima perilaku Eve istri anda apa adanya?”

Adam:  “Tapi pak…” protes Adam dengan nada sedikit jengkel.

Terapis:  “Tapi apa…???” tanya sang hipnoterapis dengan heran.

Adam: “Tapi………… saya ini GAY pak, dan pasangan hidup saya itu bernama Steve, bukan Eve!!!”

Terapis: “ …………….??!”

Rekan rekan terapis, tadi sebelum anda membaca kalimat Adam yang terakhir, anda juga berasumsi pasangan hidup Adam adalah seorang wanita bukan?

images

Meskipun sedikit dilebih lebihkan, insiden mirip contoh diatas itu sudah sering terjadi di ruang terapi, terutama pada seorang pemula atau terapis yang kurang sabar ketika harus mendengarkan, sehingga tanpa disadari sudah menggunakan model dunia sendiri berikut dengan asumsi asumsinya pada klien, dan hal ini bisa berakibat pada hilangnya rapport dan cara penanganan kasus yang tidak tepat dan tidak efektif.

Terus bagaimana caranya menghindari insiden seperti diatas? Berikut ini ada beberap tips yang bisa anda lakukan:

  1. Biasakan diri mendengarkan dengan sabar dan proaktif.

Kenapa kurang sabar untuk mendengarkan? Salah satu penyebabnya adalah karena perbedaan dalam kecepatan berbicara dan kecepatan mendengar pada setiap orang.

Dari hasil penelitian para ahli, kecepatan mendengar manusia itu rata rata 600 sampai 800 kata per menit, sedangkan kecepatan berbicara itu hanya 100-175 kata permenit, jadi ada perbedaan kecepatan yang sangat besar, sehingga ketika kita mendengarkan, kita akan cenderung menjadi bosan dan tidak sabar, dan akibatnya, kita akan membiarkan pikiran kita menerawang, atau menjadi tidak sabar untuk mendengarkan sampai habis, sehingga sebelum lawan bicara selesai dengan kalimatnya, kita suka menebak dan menarik kesimpulan tentang apa sedang yang dibicarakan.

Dan bagaimana caranya mendengarkan secara proaktif?

Mudah saja, anda bisa mengulangi di dalam hati kata demi kata apa yang diucapkan klien anda, dan karena anda mengulangi kata kata yang diucapkan, maka aktifitas ini akan mengurangi kecenderung pikiran anda untuk memikirkan hal lain sehingga anda bisa tetap fokus pada topik pembicaraan.

Kemudian, dengan mengulangi dalam hati kata kata klien anda, maka anda akan lebih mudah memahami apa yang diucapkan dan lebih mudah bagi anda untuk melihat dari perspektif klien.

Atau anda bisa memunculkan distorsi waktu dalam diri anda sendiri, sehingga anda bisa menjadi lebih sabar seandainya klien anda berbicara dalam tempo yang sangat lambat.

  1. Pastikan bahasa yang anda gunakan senetral mungkin dan bebas dari asumsi anda sendiri.

Bagaimana caranya?

Selain membiasakan diri menggunakan meta model dari NLP, anda juga bisa menggunakan Clean Language, sebuah teknik bertanya yang dikembangkan oleh David Grove, seorang psikolog asal Selandia Baru.

Clean language itu terdiri dari 12 pertanyaan yang memungkinkan seorang terapis untuk melakukan eksplorasi model dunia dan metafora klien dengan bersih, memodelnya dan membantu klien untuk memunculkan perubahan perilaku berdasarkan pengalaman atau model dunia klien itu sendiri.

Menurut Grove, setiap kata yang digunakan oleh klien memberikan arti tersendiri bagi dirinya sendiri, sehingga ketika kata kata klien diganti atau ditambah dengan kata2 dari terapis (paraphrasing), seperti yang sering diamati Grove ketika mempelajari transcript dari Virginia Satir, Milton Erickson dan terapis lainnya, maka proses paraphrasing ini akan mengurangi rapport dan juga bisa menghilangkan proses pembelajaran yang seharusnya terjadi melalui pengalaman unik ini.

Terus…  apa yang membedakannya dengan NLP? Bedanya, kalau NLP itu fokus pada struktur dari sebuah pengalaman subyektif, Clean Language itu fokus pada arti simbolik dari content sebuah pengalaman subyektif, yaitu fokus dengan simbol dan metafora klien sehingga dalam lingkungan NLP metoda ini disebut juga dengan Symbolic NLP atau Symbolic Modelling.

Apa saja 12 pertanyaan yang “Bersih” dari Grove? Nantinya akan saya bahas di artikel mendatang.

Salam Turbo,

Awie Suwandi

The Mind TranceFormer

 =================

“Ketika orang lain mengikuti pepatah yang mengatakan…

Perlakukan orang lain dengan cara seperti apa anda ingin diperlakukan…

Bukankah lebih efektif kalau pepatahnya anda ubah menjadi…

Perlakukan klien dengan cara seperti apa mereka ingin diperlakukan oleh anda…!!!

=================

Hati Hati Dengan Asumsi Anda